Session Notes

From Transmission
Jump to: navigation, search

back to Camp Sambel main page

English summaries of Session notes

Strategi Pendistribusian (Ariani)

Videokronik adalah sebuah riset yang dilakukan oleh EngageMedia dan Kunci yang bertujuan untuk membuat peta pemakaian video online di Indonesia (dengan fokus di Jawa dan Bali). Videokronik walaupun telah jadi buku tapi tetap akan dikembangkan dengan riset-riset lebih dalam.

Ferdi: Riset dilakukan berdua oleh Ferdi dan Nuraini Juliastuti, karena keinginan mendokumentasikan tentang aktivitas pembuatan video di Indonesia. Proses penelitian lapangan 1 hingga 1 setengah bulan di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogya, Bali. Basisnya wawancara untuk mencoba melihat latar belakang organisasi/individu yang bergerak di video dan juga mencari tahu refleksi mereka atas apa yang telah mereka lakukan selama ini. Riset dilakukan di awal 2008, dengan proses cross-check terus menerus, juga asistensi dengan tim Engage Media.

Kami berangkat dengan 4 pertanyaan, melihat pergolakan kegiatan pervideoan yang dimulai dari era 1998, di mana mulai terjadi keterbukaan media. Pertanyaan kami saatu itu adalah berapa dari sekian banyak orang yang bergerak dalam bidang sosial mulai menggunakan perangkat video.

Bagian awal buku banyak mengulas tentang sejarah, mulai dari sejarah teknologi dan penerapannya di Indonesia. Juga dibuat peta kasar untuk membagi-bagi beberapa jenis penggunaan video: grass roots, practical, video aktivis, eksperimental (melawan representasi di wilayah mainstream). Kategori ini bisa saja diperdebatkan, dan silakan diobrolkan lebih detil dalam sesi ini.

Saya juga mendatangi beberapa agen yang telah melakukan distribusi video: In-Docs, Konfiden, Marshall Plan, Bioscope, EngageMedia, Combine, Yes No Wave.

Dari sekitar 20 individu dan kelompok, kami melihat permasalahan utama yang ada yaitu masalah sustainability dan pendistribusian.

Ali: Karena banyak yang belum membaca bukunya, kami menghadirkan beberapa orang sebagai case studies. Silakan Ariani bicara tentang pendistribusian offline.

Ariani: Film dibuat untuk berbagai macam alasan. Ada yang untuk advokasi, ada yang sebagai film as a film. Film as a film harus bisa diputar dengan visual dan audio dengan baik. Namun ada juga video-video yang dibuat untuk advokasi dan bisa disiapkan untuk presentasi online atau dalam format layar kecil, dengan audio yang pas-pasan.

Kesulitan pembuat film/video di Indonesia masih berputar pada soal distribusi, ingin ideal tapi kanal-klanal distribusi tersebut sangat minim. Saat ini banyak filmmaker yang resah dengan soal distribusi. Bagaimanapun kita tahu bahwa produksi film jauh lebih berat ketimbang produksi musik independen, (sebagai contoh kasus), karena pendanaan yang relatif jauh besar dalam film, ditambah distribusi yang terbatas.

Dalam film, monopoli distribusi terbesar masih oleh jaringan bioskop 21. Meski saat ini sudah ada para penggiat film yang mulai berpikir soal bagaimana mengatasi monopoli 21. Misalnya dengan adanya Blitz Megaplex, meski masih tetap tidak semudah itu para filmmaker indie lokal bisa menayangkan film-film mereka di sana. Konsistensi dan kualitas produksi seringkali menjadi pertimbangan pihak-pihak bioskop. Di luar jaringan bioskop, ada ruang-ruang alternatif untuk screening, tapi tempat-tempat ini masih belum bisa menghasilkan uang untuk para pembuat film. Saya pikir ini terjadi karena masyarakat Indonesia masih belum bisa menghargai produksi film lokal. Maunya masih gratisan melulu. Ini adalah mental yang perlu diubah untuk meningkatkan apresiasi pada karya-karya film/video lokal.

Ferdi: Selain bioskop, dalam distribusi offline, ada potensi dari TV.

Anggit dari Kotahujan.com Kenapa kami di Bogor memilih jalur distribusi melalui internet? Berdamai dengan keadaan, ya. Kami berusaha untuk membuat sesuatu yang nyata dan bisa dinikmati oleh masyarakat. Masyarakat Indonesia berpikir bahwa ada dua perusahaan besar yang menguasai TV: Bakrie dan MNC. TV lokal ini belum bisa lepas benar dari cengkeraman dua perusahaan tersebut, mereka masih memegang monopoli dalam hal: 1. informasi yang beredar 2. Frekuensi yang tersedia. Padahal setiap masyarakat memiliki hak untuk menyiarkan.

Setelah bertemu dengan Air Putih, kami mendapat informasi bahwa pengguna internet di Indonesia sudah sangat tinggi. Audiens sudah ada, tinggal bagaimana kita mengelola media alternatif ini. Pengguna internet di Bogor sangat banyak (mereka adalah pengguna MySpace, YouTube), namun kebanyakan masih menggunakannya untuk hal-hal yang tidak serius. Jadi adalah masalah pengelolaan content yang baik.

Tantangan yang berat adalah masuknya pikiran mainstream ke daerah, yaitu ketika orang-orang media datang ke daerah dengan membawa keyakinan tertentu: seperti misalnya bahwa berita identik dengan presenter yang cantik, lighting yang terang, dll.

[[Ali: ]]Bagaimana cara menggabungkan distribusi online dan offline?

Jaka dari Forum Lenteng: Kita memadukan distribusi online dan offline (distribusi karedok/hybrid). Distribusi hybrid ini adalah strategi paling efektif untuk kami, ketika beberapa video/film yang kami produksi sulit didistribusikan, maka cara paling baik adalah online. Namun ketika ada beberapa film kami yang memungkinkan untuk didistribusikan secara offline, akan kami distribusi secara offline. Mana yang lebih baik? Dua-duanya sama, hanya tergantung kebutuhan.

Ferdi: Tingkat kesulitannya bagaimana?

Jaka: Lebih mudah online karena semua tersedia.

Film yang bagus untuk didistribusikan secara offline bisa dikirim via online (lewat torrent), untuk bisa diunduh dan dipasang secara offline di tempat lain. Sound dan kualitas visual yang buruk memang masih menjadi kendala dalam penyebaran film secara online.

Ariani: Permasalahan distribusi film secara online itu salah satunya adalah kita jarang mendapatkan feedback dari audiens, karena saya rasa orang Indonesia masih enggan komen di internet. Tapi di situs Aku Massa kenapa banyak yang mau comment?

Jaka: Karena Akumassa sudah membentuk audiens itu sebelum artikel-artikel di website itu ditulis. Dan yang menulis artikel itu kebanyakan adalah audiens-audiens yang nantinya turut comment. Jadi ada perasaan memiliki bagi para penulis artikel tersebut. Sangat berbasis komunitas. Strategi kami adalah dengan mengincar audiens yang sudah berbasis komunitas.

Enrico: Bagaimana pengalaman2 dari teman2/grup/komunitas lain menggunakan video-video yang sudah ada? Bukan video yang khusus diproduksi.

Prakash: Video online dan offline tergantung dari fungsi videonya. Strategi online tergantung kepada siapa kita mau bercerita. Seperti misalnya kalau saya mau putar film di pedalaman, tidak bisa online, tapi harus screening (offline). Jadi sebelum kita memikirkan strategi distribusi, kita harus memikirkan strategi film itu sendiri.

Nova: Apa yang saya dapatkan setelah saya ikut Engage: saya mendapati bahwa 90 persen dari orang-orang yang saya temui hanya berpikir tentang pembuatan film, tapi tidak tentang bagaimana pendistribusian, apa yang dilakukan setelah film tersebut jadi.

Herbert: Di kampung teman saya, dia memakai strategi penyebaran film lewat channel parabola. Seperti contoh, ia menjadwalkan pemutaran film Laskar Pelangi jam 8 malam, di mana keluarga2 kemudian menonton via TV-nya masing-masing.

Ferdi: For Film ada masalah distribusi?

Nata dari For Film: Karena kami membuat film panjang, maka susah diupload secara online.

Ferdi: Kita ingin mencoba bagaimana yang offline dan online ini saling mendukung. Forum Lenteng mungkin sudah mencobanya, tapi belum merata, hanya ada di pusat-pusat kota. Bagaimana masalah kualitas internet di Indonesia?

Wandi: Peningkatan pengguna internet dalam 3 tahun terakhir di Indonesia: 1600%. Apabila seluruh pengguna Facebook di Indonesia digabungkan, mereka menjadi negara ke-8 terdapat di dunia. Trend sekarang adalah, dengan adanya FB, orang Indonesia jadi terbiasa upload ketimbang download: termasuk mengganti status dan mengupload foto2. Dengan begini, orang menjadi terbiasa berbagi apa saja.

Jumlah pengguna blogger dan pembaca Kompas tidak berkembang, tapi pemakai internet naik 1600%. Artinya: kemungkinan pengolahan internet di Indonesia sangat terbuka. Tapi kenapa mereka tidak banyak menggunakan video? Banyak orang hanya menggunakan satu kanal media sosial saja, dan tidak menggunakan beberapa kanal sekaligus: seperti misalnya upload hanya ke FB tapi tidak sekaligus ke twitter, multiply, atau blog-nya sendiri.

Yang positif dari trend ini adalah: orang sudah mau upload. FB dianggap sebagai killer application, yaitu ada 30 juta FB di seluruh Indonesia. Konvergensi belum dilakukan secara masif. Fakta lain adalah: jumlah pengguna internet adalah setengah dari pengguna handphone. Maka, kita harus bisa mengetahui kebiasaan / trend perilaku audiens kita lewat studi-studi tersebut, lalu kita menentukan bagaimana kita bisa berstrategi.

Distribusi video kita masih sangat old school, kita taruh di situs kita, tapi kita tidak menganalisa siapa yang akan menonton, atau siapa yang akan datang ke situs kita.

Ali: Menurut saya yang hilang adalah bagaimana kita bisa memperbesar sel-sel penyebaran.

Linda: Sedikit sharing dari 'korban'-nya Aku Massa. Awal perkenalan kami langsung merasa klik karena kita diberi kesempatan untuk membahas tentang daerah kita sendiri, hal-hal yang ada di sekitar kita. Sesuatu yang sangat familiar, namun seringkali tidak kita ketahui/kenali --> citizen journalism.

Tarlen: Saya mau berbagi sedikit tentang bagaimana saya di Tobucil menggunakan berbagai jaringan sosial. Kontak di Tobucil sekarang sudah ada 4000 lebih, dan sayang sekali jika tidak dipakai untuk mengenali perilaku mereka. Maka saya sering menggunakan status Facebook untuk mengenali member Tobucil. Seperti misalnya: apakah quote favorit kamu? Ternyata banyak sekali yang menjawab, mulai dari anak-anak SMA hingga urban designer. Namun bila saya menanyakan tentang masalah kota misalnya, yang menjawab hanya warga Bandung yang baru mulai peduli pada kotanya.

Jangan lupa juga, kita seringkali lupa untuk menggunakan hyperlink dari semua media online yang kita miliki: FB, Multiply, blogger dll. Itu penting karena karakter pengguna masing-masing jejaring sangat berbeda, maka ketika kita mencantumkan semua hyperlink tersebut, mereka baru mulai terbiasa untuk masuk ke site-site lain.

David: Jiffest mengadakan traveling di Padang Panjang. Hari pertama hanya ada 20 orang yang datang, hari terakhir hanya tinggal panitia. Kalau dari pengamatanku, mereka mengadakan screening hanya sekadar untuk mengadakan screening. Karena publikasi mereka sangat mepet, maka yang tahu hanya beberapa orang saja, segelintir mahasiswa2 di kampus. JiFFest menggunakan EO di daerah, tapi EO2 seringkali hanya merasa perlu mengerjakan tugas mereka, yaitu memutar film, tanpa bisa melihat dan memanage terlebih dahulu siapa calon audiensnya.

Tri: Program kami lebih ke edukasi, kampanye, dan investigasi. Selama ini investigasi biasanya di-follow up dengan screening, dan menyebarkan ke TV2 nasional.

Ferdi: Yang di luar Indonesia mungkin bisa sharing juga?

Malaysiakini: Kami menyebar video lewat situs malaysiakini dan youtube. Tapi tidak memutar offline, karena kami tidak ada support secara finansial.

Ferdi: Pemetaan Videokronik ini akan kami perbaiki, namun pertanyaannya adalah: apa diperlukan kategori-kategori pelaku video berdasarkan atas apa yang mereka lakukan? Atau kategori lebih baik didasarkan bagaimana mereka melakukannya?

Jaka: Buku ini kan lebih fokus ke komunitas, bagaimana dengan aktivis-aktivis individu?

Ali dan Ferdi: Ya, memang harus lebih dibuka.

Arif: Buku ini menarik karena membuat kita informasi-informasi tentang peta video di Indonesia, namun akan lebih menarik bila memuat seluruh Indonesia. Menurut saya, klasifikasi yang dilakukan sangat berani, tidak masalah, tapi mungkin berikan alasannya kenapa klasifikasi itu ada. Klasifikasi yang ada sekarang berdasarkan motif. BIsa juga dibuat klasifikasi berdasarkan modus. Bisa dilihat acehvideo.com yang berisi database.

Arifsyah/Jaringan-KuALA: Menarik sekali hasil pemetaan yang dilakukan oleh EngageMedia dan Kunci terkait bentuk atau jenis aktivisisme video di Indonesia. Meskipun hingga saat ini basis data dari pemetaan tersebut berada di Jawa-Bali, namun saya pikir itu langkah awal yang sangat baik. Saya juga melihat pengklasifikasian aktivisisme video menjadi tiga kelompok besar: akar rumput, taktis dan eksperimental merupakan langkah yang sangat berani dan pastinya akan mendatangkan perdebatan seru. Bukan berarti tidak sepakat dengan pengklasifikasian tersebut, namun perlu dikembangkan dan dimatrikskan lebih lanjut secara sistematis antar ke-tiga kategori itu, guna mempermudah teman-teman yang ingin menggunakan 'tawaran' sistem klasifikasi ini untuk kerja-kerja pemetaan berikutnya. Disamping itu, pemetaan tidak hanya dilakukan di Indonesia, juga dikembangkan di negara-negara Asia Tenggara lainnya, setidaknya di satu atau dua tahun mendatang ini mencakup juga Malaysia dan Timor Leste; juga tidak ketinggalan Australia (mengingat EM bersekretariat-pusat disana). Saya yakin teman-teman yang hadir di Camp Sambel bersedia untuk membantu perluasan cakupan geografis basis data, sehingga "Videokronik" akan "semakin berdaya-ledak tinggi".

Gerakan Lingkungan dan Video Online

Hal-hal yang didapat dari sesi ini: 1. Video Lingkungan yang efektif kadang-kadang harus meminjam bungkus cerita lain, sehingga menarik pemirsa. Misalnya tentang wanita-wanita yang mengasuh Orang Utan. Bila isu-nya disampaikan dengan cerita seorang tokoh, maka videonya lebih humanis dan lebih dekat ke pemirsa. Contoh lain: Erin Brokovich.

2. Belajar dari dokumenter the Cove tentang planning dan aksi yang ternyata bisa menjadi dokumenter yang efektif. Jadi aksi pelestarian lingkungan yand betul-betul direncanakan untuk didokumentasikan dan dijadikan film yang efektif, ternyata bisa amat ampuh seperti film the Cove.

3. Ada berbagai pengalaman dalam mencuatkan isu lingkungan di media. Strategi mengajak media ramai-ramai memberitakan sebuah isu dengan mengundang mereka, memberi transport dan mengorganisir sebuah perjalanan reportase ke lokasi, ternyata berdana besar. Tidak pula meda yang datang meliput memuat isu tersebut di medianya. Salah satu strategi yang digunakan profauna.org yang bisa memunculkan isu lingkungan di media adalah misalnya mengundang TV ONE untuk meliput transaksi jual beli satwa di kebun binatang.

4. Pembuatan film, penayangan film, dan kampanye, meskipun hanya bersifat mengajak dan adalah investasi jangka panjang, tapi harus tetap dilakukan. Tentu saja masih banyak yang harus diperbaiki dari distribusi dan packaging pesan-pesan lingkungan lewat video supaya "pukulan" betul2 terasa. Misalnya, jangan sampai kalau membuat film tentang hutan ditontonkan kepada orang-orang yg tidak punya tentang hutan -- i.e. orang kota. Mungkin lebih efektif bila film itu ditontonkan kepada polisi, pengambil keputusan, yang langsung berhubungan dengan isu itu. Contohnya, ketika info tentang perdagangan ilegal satwa disampaikan ke Kapolda, ia mengambil tindakan, baik itu untuk mencetak prestasi atau menjalankan tugas.

Video Nusantara

map of video activism

videochronic book

Pendistribusian video dalam kondisi represif (Ferdi)

untuk sementara materi ini tidak akan dicamtumkan di sini

Isi Terbuka dan Creative Commons

Arifsyah/Jaringan-KuALA: Hmm... sebelumnya saya sama sekali tidak ambil pusing dengan masalah hak-cipta atau hak-jiplak sekalipun. Mendengar "Creative Commons" juga baru di Camp Sambel ini. Bagaimanapun jua, melalui sesi ini semakin memperkuat alasan-alasan logis mengapa kita perlu awas untuk menghargai hasil karya orang lain tanpa harus repot sowan langsung apalagi keluarin biaya, tapi untuk sekadar biaya kopi "hana masalah" pastinya :). Selanjutnya, sedikit meluas, untuk urusan piranti-lunak (software) saya lebih suka memakai software yang easy-handling sesuai dengan gaya dan birahi berkomputer saya. Singkatnya saya lebih suka menggunakan sesuatu yang mudah dan berlaku awam dan umum serta senang mencari versi 'hacked' alias 'terbajak'. Juga saya sangat senang bila ada beragam freeware yang powerful, it's ok's banget. Terberkatilah para "cracker" dan selamat berjuang kepada rekan-rekan berdarah "Open-Sources", good luck!

FOSS Intro

Sesi ini adalah pengenalan Free and Open Source Software (FOSS). Acara difasilitasi oleh Wandi (AirPutih) didampingi Yossy (Combine).


Presentasi Presentasi mengenai FOSS dilakukan Wandi dengan judul "Penjual Jam dan Pemalsu Skripsi".


Sharing Pengalaman Presentasi dilanjutkan Yossy yang menceritakan pengalaman Combine saat migrasi ke FOSS.


Tanya-Jawab


Rencana Tindak Lanjut

http://makeitfossible.web.id/

Berbagi Pengalaman dalam Masyarakat Adat

Video Kampung

oleh heidi


  • Abu dari Kampung Halaman:

Metode: Peran fasilitator sangat penting Kadang orang tidak merasa ada masalah di kampungnya. Begitu masuk dengan video - barus orang merasakan kalau ada masalahnya

Fungsi: Terapi dan advokasi kampanye

Model-model pendampingan: Bukan masalah produk yang terutama. Akan tetapi proses pemberdayaannya yang menjadi tujuan terutama

Film kolaborasi: Ini berfungsi sebagai "produk yang baik" - dikerjakan dengan teknis yang professional, lalu di buat secara kolaborasi antara amatir dengan profesional


  • Jaka dari Forum Lenteng:

Sudah terlalu lama kita terkungkung oleh narasi besar

Narasi kecil: Pengelolaan informasi yang luput dari amatan media mainstream

Ide awal: Aku Massa = tataran ide

Lokasi dampingan yang berada di kawasan abu-abu secara kultural namun memiliki sejarah yang panjang

Cirebon - budaya bercamput - 2 bahasa - Sunda dan Jawa Padang panjang - sekolah putri - jurnalis perempuan (Rasuna Said) lahir di sana

Akses media audio visual (televisi) sejak lama telah mendominasi kehidupan masyarakat tersebut

Pentingnya distribusi informasi lokal yang dikelola oleh masyarakatnya sendiri dengan kesadaran tekstual karena tidak memiliki media sendiri

Komunitas yang sudah ada (Aku massa tidak membentuk komunitas baru)

Panjat pinang di buat oleh pihak kolonial untuk mentertawakan masyarakat lokal

Tantangan terbesar adalah bagaimana komunitas2 ini bisa bertahan


  • Prakash dari Komas Malaysia:

Mulanya dari siapa? -orang, LSM, kampung, orang biasa, komunitas akar rumput

Untuk siapa? masalah pembelajaran komunitas - kehilangan, terancam dll orang asli/ orang asal semua berlandasan masalah hak

Pembuat oleh Siapa? komunitas/ LSM individu - masyarakat

Cara Penggunaan? Screening, komunitas, diskusi, kolaborasi (orang luar dlsb), advokasi, internet distribusi, workshop, jurnal

Proses lebih penting dari produk

Distribusi/ Aksi/ Impak? Komunitas Putaran/ terapi Pemberdayaan - orang merasa berani, mereka mau berdemo, ambil tindakan sendiri Membuat media komunitas studio


  • Diskusi:

Masalah mempertahankan komunitas Pemuda di desa butuh kerjaan

EngageMedia.org / talk to our team

Televisi dan Online

Video Festivals

Sesi ini dimoderasi oleh Enrico dengan Narasumber utama: Prakash. Dimulai dengan pemutaran video dari Malaysia, tentang social justice dan freedom of expression.

Prakash: Sudah 7 tahun festival berjalan (Freedom Film Fest). Untuk kegiatan penguatan dan penhormatan human rights. Dikembangkan melalui pengembangan proposal. Setiap tahun temanya berbeda-beda. Winning proposal dibagi kepada grants (tiga pemenang). Setelah selesai produksi akan dilakukan screening. Tahapan keseluruhannya memakan waktu 4 bulan. Latar belakangnya bahwa di Malaysia isu human rights sangat ditekan sehingga perlu diambil langkah-langkah kampanye salah satunya melalui film festival. Peserta filmmaker-nya sekitar 30-40 proposal. Saat screening penonton bisa mencapai 1500 orang di Kuala Lumpur dalam 3 hari tergantung jenis videonya. Seringkali screening juga diikuti oleh pihak intelijen. Setelah berjalan beberapa tahun pemerintah mulai coba paksa agar semua film harus disensor terlebih dahulu.

Tanya-Jawab: 1. Jumlah film-maker yang ikutan? Jawab: sudah terjawab: antara 30-40 peserta setiap tahunnya

2. Festival lainnya? Jawab: bisa dikatakan ini hanya satu-satunya film festival yang independen 3. Keberagaman penonton penonton? 4. Kegiatan selain screening dalam festival? Jawab: ada, seperi workshop dan jumpa-temu dengan grup-grup kecil. 5. Setelah festival, film-filmnya diapakan? Jawab: Didistribusikan kepada yang berminat berdasarkan persetujuan film-maker

Enrico: saya pernah ikutan FFF tahun lalu (2009). Sangat ramai sekali, berkesan dan sungguh menarik. Pengunjungnya ramai, ada yang jualan, souvenir.

Tanya-Jawab: 6. Dukungan dana untuk kegiatan? Jawab: ada dari donor, setelah screening ada "donation box".

Ali: Kepada Enrico, Apakah format ini bisa jalan di Indonesia? Jawab: (Enrico) Mungkin konsepnya akan berbeda sedikit, sesuai dengan kondisi di Indonesia yang sedikit lepas/bebas dari Malaysia.

Ali: Jaringan global untuk ? Dijawab Prakash: Masih tergantung dengan film-makernya.

Tanya-Jawab: 7. Bagaimana di Indonesia, terutama di daerah-daerah?

KIRI DEPAN: Tidak pernah lakukan festival, tapi melakukan distribusi melalui screening kecil-kecilan dari database lembaga. Formatnya sangat sederhana dan strateginya adalah meningkatkan fungsionalitas jaringan, yaitu juga dengan melakukan power mapping dari stakeholder yang ada.

FORUM LENTENG: Belum pernah melakukan festival. Hanya saja kita buat akumassa.com. Sehingga diarahkan kepada fasilitasi rekan-rekan jaringan

ENRICO: Walhi dan Jatam. South to South Film Festival. Konsepnya bagus, tapi sayangnya kontak dengan masyarakat arus bawah asal filmnya itu sendiri sangat minim.

LAINNYA: - Perlu ada konsep videonya sendiri, karena film dokumenter kadang-kadang menjemukan.

Tanya-Jawab: 8. Penggarapan konten? Jawab: (Prakash) Karena kita isunya jelas "human rights", maka kita sangat fokus pada konten. Disamping itu branding itu penting. Lainnya, karena film kita tidak mungkin tampil di media massa, maka perhatian masyarakat bawah sangat tinggi.

Denny: Kemasan tematik sangat penting. Artinya harus memperhatikan kelokalan. Soal genre juga menjadi penting.

Harris: Agak sulitnya juga seringkali kita kaku dalam kemasan. Websitenya juga kaku. Unsur-unsur pop (anak muda) seharusnya perlu dimasukkan dalam warna film/media kita.

Lainnya: - Pendataan di tingkat lokal sendiri juga sangat penting. - Orang perlu dibiasakan nonton dengan cara-cara alternative.

Tanya-Jawab: 9. Keberlanjutan pendanaan? Jawab: dimaksimalkan dari berbagai sumber, dari donatur tetap. Dan sangat terbantu pelibatan banyak bantuan luar dengan berbasis relawan, karena di Komas hanya 5 orang.

Camp Sambel Festival ?!!! Perlu kita fikirkan bersama.

Enrico: kita padakan sesi ini, menunggu aksi kawan-kawan!

Pendekatan Socio-Enterpreneurship dalam Mengelola Ruang Alternatif secara Mandiri

Wiki wiki, kenapa wiki?Dan Bagaimana pakai server local Plumi untuk berbagi video

Mengkompresi Video

facilitators: Nova, And techie: Bobo participants: Eva, Tri, David, Wahyu, Arifsyah, Rio, Chamot, ada lagi?

  • Nova explaining codecs and container:
  • Audio: mp3, wav, midi, aiff, flac, vorbis, wma, aac
  • Video: mp4, divX, X.vid, H.264, FFMPEG
  • Container/Format: AVI, mov, VOB, 3gp, MP4, MPEG-1/DAT, MPEG-2, MKV, FLV, OGG, WMV
  • learning how to use handbrake:
  • deciding the compression setting for online and screening using
  • learning how to make presets
  • explaining decomb and deinterlace to get rid of 'interlacing' effect on videos
  • People working in groups to see the result after handbrake
  • Group 1
  • Film: Calling Herman
  • size: 190,9 MB
  • duration: 4 mins
  • genre: documentation
  • will be posted to: FB and website
  • bitrate: 1500 kbps
  • codec: H.264
  • output: mp4
  • effect: decomb
  • result: 64 MB
  • Group 2
  • Film: Jungle School
  • size: 641 MB
  • duration: 4 mins
  • genre: documentation
  • will be posted to: -
  • bitrate: 1500 kbps
  • codec: H.264
  • output: mp4
  • effect: decomb
  • result: 36 MB
  • Group 3
  • from the picture i saw, it doesn't have a successful result. the type of file is VLC and will be change into MP4. bitrate is 1536 kbps and changed into 160 kbps. size is 110 MB and change into 5315 MB?
  • Problems:
  • installing handbrake on windows
  • skills difference
  • limited time

Publish online

This may possibly be rolled into the strategy session, but want to add it in now just in case. Arifsyah/Jaringan-KuALA: Wah grup publish online ternyata sedikit peminatnya, hanya saya, bung Rio dan bung David. Meski demikian sesi sangatlah menarik dan memperkuat basis pengetahuan saya tentang publish online. Mengingat peserta sedikit, membuat serapan dan tranfer ide, pengamalan dan ketrampilan menjadi lebih terbuka. Kita belajar tentang bagaimana langkah publish material video di laman mirip web EngageMedia, lihat-lihat blognya campsambel, gunakan sejumlah software pendukung publish online (lihat bagian software); sebelumnya diawali dengan diskusi mengapa publish online, tantangannya di Indonesia dan bagaimana cara mensiasatinya. Sebagai salah satu Admin-adminan di Kuala.or.id; Sesi publish online menjadi salah satu sesi penting buat saya, disamping FOSS, Wiki dan Plumi. Untuk Foss dan Wiki saya sedikit familiar. But Plumi... bagi saya sesuatu yang baru saya kenal... adakah yang bersedia sharing (setidaknnya menuliskan disesi Plumi)? Finally, terimakasih mbak Nova dan bang Yarry yang telah memfasilitasi dengan baik sesi "publish online" ini.

Subtitle dengan Open Source

oleh heidi


  • Ini sesi yang asyik dan dimotori oleh jaka dan yerry... sayang dalam sesi sambungan internetnya putus, jadi kami tidak banyak waktu untuk main-main dengan program baru seperti:

>Mplayer OSX

>miyu

>jubler


  • Juga tidak banyak waktu untuk membuat catatan, apalagi dalam bahasa indonesia :)

>export to DVD - .sub/ .srt

>edit file .srt in text edit

>don't change the .srt file because the timeline will change too..


  • Barangkali bang jaka atau yerry dapat memberi pencerahan yang lebih oke dari saya.. ah.


http://www.engagemedia.org/Members/yerry/mengunggah-file-subtitle

Video editing dengan Open Source

Jaringan Apa?

Tifatul Sembiring Vs. Peterporn

DEBAT PETERPORN VS. TIFATUL SEMBIRING

Pihak Peterporn Argumentasi #1 -Apakah seleb tidak berhak dapat privasi? -Bukan masalah diedarkan atau tidak - tapi dijadikan alasan Depkominfo untuk membatasi kebebasan di internet

Pihak Tifatul Sembiring Argumentasi # 1 -Masalah etika -Penggunaan internet sehat -Koridor kebangsaan serta moral agama bagaimana? -Pancasila, adhiluhung -Sudah menjadi urusan publik (yaitu, seks diluar nikah) -Makanya penting menetapkan RPM konten

Pihak Peterporn Argumentasi #2 -Banyak masalah yang lebih penting -"Self-censorship" bisa dilakukan oleh masyarakat sendiri

Pihak Tifatul Sembiring Argumentasi #2 -Masyarakat kita banyak, tidak tahu yang mana yang benar

Pihak Peterporn Argumentasi # 3 -Seharusnya menjadi tanggung jawab pihak2 sosial (bukan pemerintah) seperti individual, keluarga/ ortu, sekolah

Pihak Tifatul Sembiring Argumentasi # 3 -Semua kebebasan ada batasnya -Dokumentasi pribadi ada batas waktunya sebelum menjadi publik domain


TERNYATA ADA DUA VERSI INTERNET SEHAT

Internet Sehat - Versi Menkominfo

1. Single gateway - Nawala (aplikasi) ISP berkompetisi untuk mengelola single gateway tersebut

2. Hukuman pidang - pelanggaran konten (berbentuk berita, rekam dan cetak)

Internet Sehat - Versi Komunitas

www.internetsehat.org; www.ictwatch.org; www.nawalaproject.org;

1. "Self-sensorship" atau lebih tepat lagi "Literasi Melek Media"

2. Memperkaya konten lokal

APA YANG DAPAT KITA PELAJARI DARI DISTRIBUSI VIDEO PETERPAN?

Strategi pengedaran

-strategi simpan video isu sosial di warnet -membuat forum di kaskus -spamming (tapi jangan sampai di laporkan ke (abuse@appjii.or.id) - jasa melaporkan spammer -jejaring sosial (kopral) -masuk ke pembajak -bonus DVD di media mainstream -jalur distributor agen koran -kerja sama dengan konten provider (misalnya kontras kerja sama dengan naga suara untuk ring back tone soal kampayne munir) ini dapat di aplikasikan ke video juga

Strategi pengemasan

tampilan yang menarik ada misteriusnya judul2 yang bombastis'

MASALAH INTERNET SERVICE PROVIDER

-ISP adalah wasit sekaligus pemain -modal bisnisnya relatif murah - tinggal membangun BTS (base transmission station) - Mempermainkan USO (Universal Service Obligation) untuk kepentingan bisnis bukan pelayanan masyarakat -Perusahaan - dalam hali ini Microsoft - masuk kurikulum sekolah (Diknas)

Wrap up (Yerry)

Sesi Wrap up

kelompok 1 – Yossy (combine)

ada tiga hal : dalam sebuah jaringan kerja 4 hal: 1.ada kerja terus menerus, harus merencanakan kerja kontinu 2.harus ada satu resource yg digunakan bersama 3.harus ada pertukaran antara lembaga, kalau hanya memberi saja kurang baik, menerima saja parasit. jenis pekerjaan harus berbeda, tidak ada duplikasi contoh: JRKI dan radio komunitas, kalau JRKI melakukan siaran, terjadi duplikasi selanjutnya kami akan menggunakan portal yang kita gunakan hari ini untuk pertukaran ide. Kita akan memasang mesin, sperti agregator/rss yang menyedot konten dari kawan-kawan yang ada di sini 4.yang kedua, ada pertukaran produk antara kita

Komas menginginkan ada pertukaran secara fisik. Ada tautan/link di portal/ link exchange

berbagi resource: 1.sharing tool 2.bisa saling kutip 3.bisa gunakan layanan hosting bersama 4.ada pertukaran peralatan

Kelompok 2 Iman Abda (JRKI)

kemungkinan kolaborasi: 1.untuk urusan berjeraring, distribusi,, audince 2.teknologi, skill, tool 3.skill sharing, knowlegde 4.sharing issue

ada catatan kebutuhan masing-masing lembaga

Kelompok 5 – Ariani

yang cukup sederhana, yang seperti halaman engagemedia.org, bisa juga untuk arsip kegiatan yang bisa dicabtumnkan di situs. Ada update informasi di situs bersama. Ada forum yang bisa menyatukan berbagai issu dan saran. Tidak usah buat situs baru. Sharing konten, sharing informasi, dan ada forum yang untuk interaksi.

Kelompok 6 – Bobo (air putih)

Ada 4 parameter: 1.harus saling mengisi dan melengkapi, harus bekerjasama. 2.Harus ada kesadaran untuk saling berbagi dan bekerjasama 3.sustanibilty, kerjasama yang stabil 4.harus ada target dan tujuan bersama


wandi: ada lima hal yang dibutuhkan dalam kerjasama. Ada dua kelompok besar di sini dari sisi aktivistas pertama yang banyak menghasilkan konten, dan yang kedua yang banyak memiliki ruang/teknologi untuk hasil produksi. Kita yang ada di sini ada yang bermain sisi konten dan ruang.

Ada dua sisi yang satu fokus dengan konten dan yang satu ada di sisi ruang atau infrastruktur. Kebutuhanya hampir sama bahwa teman-teman yang bisa disinergikan.

Bentuk kolaborasi apa yang bisa kita bikin? Misalnya kombine dan air putih menawarkan dukungan teknologi dalam satu paket. Selama ini dukungan teknologi tersebar. Misalnya membuat DVD yang bisas mengistall semua paket software, misalnya plumi, aplikasi kantor dan lain-lain.

Tarlen: Tobucil dan indoc, membuat kolaborasi dalam dokumentasi.

Bobo: Kita selalu kalah karena tidak bermimpi besar. Kita membutuhkan sarana yang lengkap. Butuh layanan terpadu/one stop.

Wandi: saya sarankan situs engagemedia perlu diperkaya bidang informasi, misalnya produksi film baru, festival baru, dan dimana bisa mendapatkan video baru. Em membuat forum. EM memperkaya konten dan fitur.

Banyak persamaan yang ada di dalam diskusi ini. Hampir 28 institusi membutuhkan dukungan teknologi. Misalnya IVAA dengan arsipnya. Kawan-kawan yang kerja dengan arsip bisa menempel dengan IVAA.